Langsung ke konten utama

Postingan

Zaid Bin Su'nah Al Israili Ra

  Zaid bin Su'nah al Israili adalah seorang pendeta Yahudi. Ia telah menyaksikan tanda-tanda kenabian yang diramalkan dalam kitab Taurat ada pada diri Nabi SAW, kecuali dua hal, yaitu kesabaran beliau dalam mengatasi suatu perbuatan bodoh, dan suatu perbuatan bodoh yang menimpa beliau, tidaklah membuat beliau bertambah kecuali kesabarannya. Ia menunggu kesempatan agar bisa menyaksikan sifat-sifat tersebut sehingga lengkaplah tanda-tanda itu sebagaimana dimuat dalam Taurat. Suatu saat ia melihat Nabi SAW keluar dari rumah istrinya diikuti oleh Ali bin Abi Thalib. Seorang badui mendatangi beliau, masih tetap di atas tunggangannya, sang badui ini berkata, "Wahai Rasulullah, aku mempunyai beberapa teman di Bani Fulan, aku pernah berkata kepada mereka bahwa jika mereka memeluk Islam, rezekinya akan melimpah, maka merekapun memeluk Islam. Sekarang ini mereka sedang mengalami musibah kemarau, kepayahan dan hujan yang tidak turun. Aku khawatir jika mereka terus dalampenderitaan ini, m...

Asmaul Husna (3)

  F. AL-KHALIQ ( الخالق ) 1. Pengertian al-Khaliq Al-Khaliq secara etimologi berasal dari kata khalq atau khalaqa yang berarti mengukur atau menghapus. Kemudian makna ini berkembang dengan arti menciptakan dari tiada, menciptakan tanpa suatu contoh terlebih dahulu, mengatur dan membuat.  Kata Al Khaliq ditemukan delapan kali di dalam al Qur’an dan merujuk kepada Allah Swt. Semenatra kata khalq dengan berbagai bentuknya terulang 150 kali dan secara umum mempertegas kehebatan dan kebesaran Allah Swt dalam ciptaanNya.  Menurut al-Ghazali meskipun kata Al-Khaliq sama dengan Al-Bari’ yang berarti pencipta, tetapi keduanya memiliki makna masing-masing.  Al-Khaliq berarti Allah Swt mewujudkan sesuatu dengan ukuran yang ditetapkan. Sementara Al-Bari’mewujudkan dari tidak ada menjadi ada saja. Sedangkan Al- Mushawwir Dzat yang memberi rupa.  2. Meneladani Allah dengan sifat Al-Khaliq a . Menciptakan hal-hal baru yang lebih inovatif. Orang yang meneladani asma Allah...

Abu Bakar Ash Shiddiq Ra

  Abu Bakar Ash Shiddiq Ra Apa yang Dikatakan Rasullullah SAW tentang Abu Bakar RA    Abu Bakar RA adalah orang dewasa pertama yang masuk islam, tetapi bukan itu saja, Rasullullah SAW juga memujinya karena cara penerimaan ajakan Rasullullah SAW untuk memeluk islam. Tentang hal ini Beliau bersabda, "Tiada pernah aku mengajak seseorang masuk Islam, tanpa ada hambatan, tanpa mengemukakan pandangan dan alasan kecuali Abu Bakar. Ketika aku menyampaikan ajakan tersebut, dia langsung menerimanya tanpa ragu sedikitpun."   Abu Bakar RA juga sahabat Rasullullah SAW jauh sebelum Beliau mendakwahkan Islam. Selisih usianya yang hanya bertaut dua tahun lebih muda, dan kemuliaan budi pekerti Abu Bakar dibandingkan orang-orang Makkah saat itu, membuatnya dekat dan akrab dengan Rasullullah SAW. Bahkan Abu Bakar menjadikan sosok Nabi SAW sebagai cerminan dan teladan untuk meningkatkan kualitas dirinya. Tak heran begitu memeluk Islam, keimanan dan keteguhannya dalam menjaga agaman...

Ulbah Bin Zaid Bin Haritsah Ra

Ketika Nabi SAW menyeru kepada para sahabat untuk bersiap-siap berangkat ke Tabuk sekaligus memobilisasi sedekah/dana, Ulbah bin Zaid merasa amat bersedih hati karena ia tidak memiliki apapun, baik harta maupun kekuatan untuk memenuhi panggilan Nabi SAW.  Pada suatu malam, iapun keluar menuju tempat yang sepi. Ia shalat sunnah sebanyak yang ia mampu. Usai shalat, sambil menangis ia berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah memerintahkan untuk berjihad dan Engkau memberikan dorongan untuk itu, tetapi Engkau tidak memberikan bekal dan memberikan kekuatan padaku. Tidak juga Engkau berikan kendaraan pada RasulMu yang dapat aku tunggangi… Ya Allah, sesungguhnya aku sedekahkan kepada semua kaum muslimin, segala hal yang mereka ambil dariku tanpa hak, baik pada harta, jasad dan juga kehormatanku..!!" Pada pagi harinya, ketika ia sedang berkumpul dengan para sahabat lainnya, tiba-tiba Nabi SAW bersabda, "Dimanakah orang yang bersedekah tadi malam? Berdirilah!!" Beberapa ...

HADIST TENTANG HIDUP BERKAH DENGAN MENGHORMATI DAN MEMATUHI ORANG TUA DAN GURU

3. Hadis a. Riwayat Muslim Dari Abū Hurairah dari Nabi Muhammad Saw., beliau: “Dia celaka! Dia celaka! Dia  celaka!” lalu beliau ditanya; “Siapakah yang celaka, ya Rasūlullāh ?” Jawab Nabi : “Ba rang siapa yang mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut), atau salah satu  dari keduanya (namun ia tidak berbakti kepadanya dengan sebaik-baiknya), maka dia  tidak akan masuk surga.” (HR. Muslim). b. Riwayat al-Bukhārī dan Muslim Aku mendengar ‘Abdullāh bin ‘Amr Ra. berkata: “Seorang laki-laki datang kepada  Nabi, lalu meminta izin untuk ikut berjihad. Maka beliau bertanya: “Apakah kedua  orang tuamu masih hidup?” Laki-laki itu menjawab: “Iya”. Maka beliau berkata: “Ke pada keduanyalah kamu berjihad (berbakti)” (HR. al-Bukhārı̄ dan Muslim). c. Penjelasan Hadis Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim tersebut menjelaskan bahwa seseorang  akan celaka ketika tidak berbakti kepada kedua orang tua. Kata “Dia celaka” ( رغم انف)  diulang-ulang oleh Rasūlullāh seba...

Bab II Menghadapi Cobaan Dengan Senyuman

1. Q.S. al-Baqarah [2]: 155 - 157 Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَا لْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَ مْوَا لِ وَا لْاَ نْفُسِ وَا لثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ۙ "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar," الَّذِيْنَ اِذَاۤ اَصَا بَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۙ قَا لُوْۤا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِ نَّـاۤ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ ۗ  "(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)." اُولٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ "Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 155-157) Ujian yang disebutkan pertama di ayat ini b...

Mu'adz Bin Amr Bin Jamuh Ra Dan Mu'awidz Bin Afra Ra

Mu'adz Bin Amr Bin Jamuh Ra Dan Mu'awidz Bin Afra Ra Ketika perang Badar sedang berkecamuk dengan sengitnya, dua orang pemuda Anshar menghampiri Abdurrahman bin Auf RA yang berada di ujung tombak pasukan, salah satunya bertanya, "Wahai paman, tunjukkan padaku mana yang namanya Abu Jahal?" Ketika Abdurrahman bin Auf menanyakan keperluannya dengan Abu Jahal, pemuda tersebut, yang tidak lain adalah Mu'adz bin Amr bin Jamuh RA, dengan semangat menjawab, "Kudengar ia suka mencaci maki Rasulullah SAW, demi Allah yang diriku di tanganNya, jika aku sudah melihatnya, takkan kubiarkan ia lolos hingga siapakah di antara kami berdua yang terlebih dahulu mati...!!" Ibnu Auf melihat kepada pemuda satunya, pemuda ini, yang tak lain adalah Mu'awidz bin Afra (nama sebenarnya Muawwidz bin Harits bin Rifaah, Afra dinisbahkan kepada nama ibunya) juga menegaskan pernyataan yang sama. Abdurrahman bin Auf memandang berkeliling mencari keberadaan Abu Jahal. Ketika ia telah ...