Langsung ke konten utama

Al-Hadi



E. AL-HADI ( الهادي )

1. Pengertian al-Hadi

Secara etimologi kata al-Hadi diambil dari akar kata hadaya, yaitu huruf ha, dal dan ya. Ia dapat diartikan dengan penunjuk jalan karena ia selalu berada di depan memberi petunjuk. 

Tongkat bagi orang-orang tertentu misalnya orang buta dapat dikatakan sebagai al-Hadi karena ia digunakan mendahului kakinya sebagai petunjuk 
ke mana kaki harus melangkah. 

Selain itu al-Hadi juga dapat berarti menyampaikan 
dengan lemah lembut. Dari makna ini terlahir istilah hadiah karena hadiah biasanya disampaikan dengan kelembutan sebagai bentuk simpatik seseorang pada orang lain. 

Dari kata tersebut juga terlahir kata al-hadyu yang berarti binatang yang disembelih di baitullah sebagai persembahan. Dalam al-Qur’an kata al-Hadi yang 
diserta dengan alif dan lam tidak ada. 

Kata yang ada Hadi tanpa alif dan lam sebanyak 
tiga kali seperti firman Allah Swt:

وَاِ نَّ اللّٰهَ لَهَا دِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ
Dan sungguh, Allah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus."
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 54)

2. Meneladani Allah dengan sifat al-Hadi

a. Meyakini bahwa petunjuk Allah Swt banyak sekali

Di dalam kehidupan di dunia, manusia sangat membutuhkan petunjuk. Petunjuk yang dibutuhkan sangat banyak dan ia harus yakin bahwa Allah Swt 
memiliki petunjuk-petunjuk itu. 

Agama mensyariatkan shalat hajat dan istikharah
karena semata-mata manusia memerlukan eksistensi petunjukNya. Dengan demikian ketika seseorang melaksanakan shalat hajat atau istikharah, maka secara tidak langsung ia meminta petunjuk kepada Allah Swt Dzat yang memiliki petunjuk-petunjuk tersebut.

b. Meyakini bahwa agama merupakan petunjuk atau hidayah tertinggi.

Allah Swt memberikan banyak hidayah atau petunjuk kepada hambanya. 

Setidaknya ada empat petunjuk yang diberikan oleh Allah swt kepada manusia.

Pertama, Naluri. 
Hal pertama yang diberikan oleh Allah Swt adalah naluri. Naluri merupakan dorongan yang diciptkan oleh Allah Swt kepada manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Seorang bayi yang terlahir ke dunia misalnya, dengan nalurinya langsung mencari air susu ibunya.

Kedua, panca indera. 
Allah Swt memberikan panca indera kepada manusia agar dengan panca indera mereka dapat eksis di muka bumi ini. Hanya saja banyak orang 
tertipu dengan panca inderanya, misalnya ketika seseorang di malam hari melihat bintang-bintang yang kecil sekali padahal dalam realitasnya ia besar.

Ketiga, Akal. 
Akal diberikan oleh Allah Swt untuk meluruskan petunjuk panca indera. Dengan akal manusia mampu menyaring dan menyimpulkan seluruh informasi yang diberikan oleh panca indera.

Keempat, Agama. 
Meskipun akal berfungsi menyaring informasi tetapi kemampuan akal terbatas karena akal hanya bisa menelaah alam fisik saja. Dengan demikian diperlukan agama untuk menelaah bidang yang tidak adapat dijangkau oleh akal.

c. Memberikan petunjuk kepada orang lain dengan sungguh-sungguh dan tanpa pamrih.

Bagi yang meneladani asma Allah al-Hadi, maka ia akan memberikan petunjuk kepada orang lain dengan sungguh-sungguh dan tanpa pamrih. Hal ini harus dilakukan karena Allah Swt dalam memberikan petunjuknya kepada manusia tanpa didasari pamrih. 

Dengan demikian orang yang memiliki ilmu berkewajiban menyampaikan ilmunya sebagai petunjuk untuk membawa orang dari kegelapan 
menuju cahaya Allah Swt.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

2. QS. Luqmān [31]: 13 – 17

2. QS. Luqmān [31]: 13 – 17 Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: وَاِ ذْ قَا لَ لُقْمٰنُ لِا بْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِا للّٰهِ ۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَـظُلْمٌ عَظِيْمٌ " Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar." (QS. Luqman 31: Ayat 13) وَوَصَّيْنَا الْاِ نْسٰنَ بِوَا لِدَيْهِ ۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِيْ عَا مَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِـوَا لِدَيْكَ ۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ " Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu ." (QS. Luqman 31: Ayat 14) وَاِ نْ جَاهَدٰكَ عَلٰۤى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ...

Bab II Menghadapi Cobaan Dengan Senyuman

1. Q.S. al-Baqarah [2]: 155 - 157 Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَا لْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَ مْوَا لِ وَا لْاَ نْفُسِ وَا لثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ۙ "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar," الَّذِيْنَ اِذَاۤ اَصَا بَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۙ قَا لُوْۤا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِ نَّـاۤ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ ۗ  "(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)." اُولٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ "Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 155-157) Ujian yang disebutkan pertama di ayat ini b...

Q.S. al-Mâ`ûn [107]: 1-7

A. Q.S. al-Mâ`ûn [107]: 1-7 Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِا لدِّيْنِ ۗ  "Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?" فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَ ۙ  "Maka itulah orang yang menghardik anak yatim," وَ لَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَا مِ الْمِسْكِيْنِ ۗ  "dan tidak mendorong memberi makan orang miskin." فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ ۙ  "Maka celakalah orang yang sholat, [sambung ke ayat 5, yaitu orang yang lalai terhadap sholat]" الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَا تِهِمْ سَاهُوْنَ ۙ  "(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap sholatnya," الَّذِيْنَ هُمْ يُرَآءُوْنَ ۙ  "yang berbuat riya'," وَيَمْنَعُوْنَ الْمَا عُوْنَ "dan enggan (memberikan) bantuan." (QS. Al-Ma'un 107: Ayat 1-7) B. Penjelasan Al-Ma`ûn menurut bahasa berasal dari kata `awn (عون) yang berarti bantuan dan pertolongan.  Pada dasarnya Q.S. al-Mâ`ûn ini menganjurkan umat Islam untuk  gemar memberi santunan dan bantua...